“Yah, berapa harga obatnya?” istriku bertanya setiba kami di rumah sore itu - perjalanan rutin empat hari dalam seminggu menjemputnya pulang kerja. Dengan senyum kecut kujawab, “32 dolar 55 sen,” dan meledaklah tawa istriku.

Inilah uang yang harus kukeluarkan untuk menebus sepuluh tablet antibiotik dan obat batuk untuk mengobati flu plus tinnitus (telinga yang berdenging) yang mampir di tubuhku empat hari jelang Idul Fithri tahun ini. Setelah minum obat bebas gak sembuh-sembuh, kupaksakan diriku ke dokter. Repotnya, kecuali nasib berbaik hati, kita tidak bisa begitu saja memeriksakan diri ke dokter tanpa membuat janji. Repotnya lagi, hari itu Jumat, dan aku harus menunggu sampai Senin untuk bisa bertemu dengan GP (general practitioner, dokter umum) di kliniknya Flinders. Tiga hari berlalu dengan batuk yang tak kunjung reda dan telinga yang tetap berdenging, aku akhirnya mendapatkan resep seharga $32.55 itu.

Walaupun harus bikin janji dulu, tapi aku tidak perlu membayar $50 alias sekitar Rp 350 ribu (!) untuk satu kali periksa dan konsultasi dengan GP, yang biasanya tidak lebih dari sepuluh menit itu. Setiap mahasiswa asing dan keluarganya harus membayar asuransi kesehatan atau tidak mendapat visa. Mengingat mahalnya biaya perawatan kesehatan di Australia, membayar asuransi ini tentulah sangat besar artinya. Misalnya, bagi yang hamil dan melahirkan di sini, selama kelahirannya normal, ditanggung semuanya oleh pihak asuransi, sonder bayar sesen pun. Kata orang sih, lha wong istriku belum pernah, hehehe. Tapi istriku juga sekitar dua bulan yang lalu bolak-balik ke dokter - mungkin ada enam kali, periksa laboratorium, pap smear, dsb - dan hanya membayar sedikit saja untuk lab, yang lainnya gratis. Bayangkan kalo harus bayar $300 (setidaknya Rp 2.100.000) hanya untuk periksa dokter aja ….

Anakku lain lagi ceritanya. South Australia, negara bagian tempat kami tinggal, punya program bagus yang namanya School Dental Clinic. Setiap anak usia sekolah dasar hingga lanjutan atas disarankan memeriksakan giginya secara berkala lewat program ini. Buat warga negara Australia gratis adanya, tetapi warga asing harus membayar $35 untuk satu seri perawatan - kecuali seri pertama dan terakhir yang gratis. Satu seri bukan satu kali datang, bisa beberapa kali datang bila memang perawatannya menghendaki demikian. Anakku, yang gigi-giginya memang tidak bagus gara-gara kebanyakan gula, harus mengalami ‘penderitaan’ ini: empat gigi depan atasnya dicabut (jadilah dia ‘Drakula kecil’ kala menyeringai) dan dua geraham bawahnya diganti dengan semacam gigi palsu perak. Meskipun ruang perawatannya lengkap, dokternya ramah, tapi aku sempat menahan tangis juga kala melihat gigi-giginya dibor, dicabut, sampai berdarah-darah ….  Alhamdulillah ini perawatan seri pertama, lewat School Dental Clinic lagi. Kalau tidak pastilah aku bakal menangis beneran kalo harus membayar sekitar $1,500 (kira-kira Rp 10.500.000) untuk enam kali periksa dokter gigi …

Eh, kembali ke awal cerita, kenapa istriku tertawa terbahak-bahak? Sekitar tiga bulan yang lalu, aku pernah mengklaim pembelian obat untuknya. Kalo beli obat, kita bayar dulu, baru kemudian diminta pengembaliannya dari asuransi. Nah, kala kuitansi obat seharga $32.30 itu aku sodorkan ke petugas asuransi di Flinders, dia senyum-senyum. Penasaran, kutanya, “Is there something wrong with my claim?” Dijawabnya, “No, nothing’s wrong. We will reimburse you for the medication. But it’s only one dollar.” Ternyata, pembelian obat sampai dengan $31.30 adalah tanggungan kita, jika lebih barulah kelebihannya yang diganti. Aku, yang sudah membayangkan akan diganti penuh, hanya bisa senyum kecut sambil bilang, “Oh, in this case I wouldn’t accept the money.” Tapi si petugas mengatakan bahwa satu dolar tetaplah uang, dan lagi klaimku sudah diproses di komputernya. Ketika menyerahkan kupon pengganti senilai satu dolar itu, dia mengedipkan matanya sambil berkata, “Here’s your reimbursement. Don’t spend it too fast.” Huehehehe, mau gak mau aku tertawa juga. Kala kusodorkan kupon itu untuk diuangkan di kantor pos Flinders, eh si petugas kantor pos terkejut: “One dollar? That’s the lowest amount of claim I’ve seen so far, mate!” Aku hanya bisa garuk-garuk kepala ….

Comments 2 Comments »

Entah sejak kapan aku mencintai buku. Pada dasarnya, aku memang suka membaca, bukan saja karena tuntutan profesi, tetapi juga keinginan untuk selalu mendapatkan informasi terbaru. Mumpung masih ada waktu sekitar dua tahun di Adelaide, aku usahakan sebisa mungkin membeli buku sebanyak-banyaknya. Untuk inilah, toko buku Borders di Rundle Mall (tidak ubahnya seperti Malioboro, minus andong, becak, bus kota, mobil, sepeda motor, warung lesehan, dan copet …) menjadi salah satu tempat fav-ku.

Jadilah pagi hari ke-11 Ramadhan tahun ini kulangkahkan kakiku ke Boders dengan berbekal kupon diskon 30%:-) Aku senang datang ke Borders karena boleh dibilang toko buku ini sangat komplit (bila dibandingkan dengan kebanyakan toko buku di Indonesia). Di lantai satu kita bisa menjumpai beragam majalah, novel, buku teks, sampai toilet dan cafe. Toilet-nya bersih, lumayan wangi, dan begitu aku masuk ke dalamnya terdengar musik jazz mengalun! Di cafe kita bisa minum kopi sambil membaca buku yang dicomot dari salah satu rak - kalau nanti setelah habis kopi bukunya nggak dibeli ya nggak masalah, asal gak ketumpahan kopi aja:-) Tapi karena lagi shaum, ya kali ini bau kopi panas nan harum sudah memuaskanku, huehehe …

Buku masakan, buku anak2, kamus, CD dan DVD bisa ditemukan di lantai dua. Di sini bahkan disediakan beberapa sofa empuk yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk melepas lelah sambil membaca-baca. Duh, enaknya … ada yang pernah sampai ketiduran gak ya?:-) Fasilitas ini tampaknya hampir tidak ditemukan di toko buku di Indonesia. Coba deh kalo toko buku Gramedia Sudirman di Jogja, misalnya, menyediakan sofa macam ini … pastilah tidak akan bertahan lama saking banyaknya yang menggunakan, sementara buku-bukunya (terutama majalah dan komik) jadi lecek dan tidak laku, hihihi …

Kuambil salah satu buku tentang China - tentu yang harganya pas dengan yang dianggarkan, minus 30% tadi - lalu kumenuju kasir. “Do you wanna a plastic bag, mate? If you do, it’ll cost you an extra 10c”, begitu kata si Mas Kasir dengan rambut dicat merah dan hidung ditindik. Kujawab ya, lalu dimasukkannya buku pilihanku ke tas plastik hitam yang di pojok kanan bawahnya ada tulisan kecil ‘This bag is 100% degradable’. Hmmm, ini bentuk kepedulian Borders akan masalah lingkungan, yang tampaknya akan menjadi legislasi nasional bagi seluruh bisnis retail di Oz. Satu hal lagi yang membuatku tambah ‘kasmaran’ dengan Borders.

Kalau kamu juga pecinta buku, pernahkah kamu menemui toko buku yang serupa Borders di Indonesia?

[Bila tulisan ini terkesan 'garing', mohon disori ya. Maklum, sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku update blog ini! Jadinya jari-jari dan otak harus dilatih kembali, sementara mood untuk bercerita belum lagi datang sepenuhnya ...]

Comments 2 Comments »

Pernahkah kamu merasa hari-hari berlalu lebih panjang dari biasanya?

Inilah yang kukira dirasakan banyak orang di Australia Selatan (dan beberapa negara bagian lainnya di ‘benua terkering’ ini) ketika daylight saving time dimulai pada Ahad, 28 Oktober 2007 kemarin (baca juga Long Days in a ‘Volatile’ Spring). Menurut ketentuan, ketika jam menunjukkan waktu tepat pukul 2 pagi di hari itu, setiap orang harus memajukannya enam puluh menit sehingga waktu saat itu menunjukkan pukul 3. Dengan demikian, waktu tidur jadi berkurang satu jam (hehehe), terangnya hari lebih cepat dan lebih lama; hari rasanya bertambah panjang.

Inilah awal hari menjelang musim panas beberapa minggu lagi: sekitar pukul 5 matahari sudah mulai muncul di ufuk timur, dan cuaca mulai menghangat sekitar pukul 6.15 untuk kemudian bertambah panas seiring dengan perjalanan waktu. Secara umum ini tidak mengubah gaya hidup atau aktivitas pagi kebanyakan orang: kuliah paling pagi tetap dimulai pukul 8.30, begitu pula jam kerja tetap dimulai pukul 9 sebagaimana kebanyakan pusat belanja membuka pintunya. Yang repot kalau lupa memajukan waktu satu jam: seorang mahasiswa bisa terlambat satu jam untuk kuliahnya atau seorang pengusaha dapat kehilangan klien penting gara-gara baru datang satu jam kemudian untuk sebuah pertemuan bisnis :-)

Tentu saja dengan memajukan waktu satu jam berarti terangnya hari lebih lama dari biasanya. Saat aku menulis posting ini, waktu menunjukkan pukul 20.26 dan hari baru menjadi gelap sekitar setengah jam sebelumnya! Dengan demikian, orang punya lebih banyak waktu setelah pulang kerja untuk melakukan banyak hal saat hari masih terang. Aku sendiri bahkan hari ini pulang dari kampus dengan ’santai’: hari masih terang benderang, padahal arlojiku sudah menunjukkan angka jelang pukul 19! Banyak teman ‘bersyukur’ bahwa Ramadhan tahun ini selesai kira-kira dua minggu sebelum daylight saving time dimulai. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk berbuka setelah pukul 19.40. Hmmm, coba bayangkan bagaimana rasanya berpuasa empat atau lima tahun yang lalu kala Ramadhan jatuh di pertengahan daylight saving time, saat sahur harus diakhiri sebelum 4.19 dan waktu magrib baru tiba sekitar pukul 20.33?

Jam baru akan dimundurkan kembali ke waktu semula, juga pada saat dini hari yang sama, sekitar lima bulan ke depan. Sampai dengan saat itu yang terbayang segera adalah hari-hari musim panas yang terik dan kering, yang membuat banyak orang Oz escaping summer by having holidays abroad :-) Summer time, here it comes!

Comments No Comments »